Tolong JANGAN LUPA buat DATA DIRI, PHOTO, NOMOR INDUK MAHASISWA DAN JUGA KELAS BERAPA DIDALAM SETIAP BLOGGER MASING-MASING.

Desktop Wallpapers

Beautiful land

Beautiful   land
beautiful dreaming

Selasa, 10 Maret 2009

“Studi Lapangan Irigasi dan Bangunan Air 2007″

Mengikuti studi keliling ke Pintu Air Manggarai, Bendung Cibalok, dan Bendung Katulampa seperti sebuah perjalanan mengurut waktu ke masa lalu. Hal ini dikarenakan semua instansi yang dikunjungi telah dibangun pada masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, bahkan semuanya dibangun pada masa penjajahan Belanda.

pintu air manggarai

Ketiga instansi yang berkaitan erat dengan ilmu irigasi dan bangunan air ini memiliki satu kesamaan, yaitu dialiri sungai Ciliwung. Kunjungan pertama ke pintu air Manggarai memulai perjalanan bersejarah ini. Pintu air Manggarai yang berada di garis depan sebelum air di sungai Ciliwung menuju daerah kota, bertugas mengendalikan aliran sungai Ciliwung. Belajar dari pengalaman banjir hebat tahun 1912, Prof. H. Van Blem memprakarsa pembuatan pintu air Manggarai untuk mengalirkan sebagian air dari sungai Ciliwung menuju saluran banjir kanal barat, sehingga seluruh aliran air sungai Ciliwung tidak ‘menyerang’ daerah kota. Kondisi instansi Pintu Air Manggarai sendiri tidak bisa dikatakan pantas dibandingkan tugasnya yang begitu besar, kantor kecil yang terlihat kumuh dengan beberapa petugas menjadi nyawa instansi yang begitu penting ini.Bercakap-cakap dengan pak Adie Widodo, petugas penanggung jawab instansi pintu air Manggarai, menghasilkan sebuah pertanyaan besar mengenai kemungkinan membereskan masalah banjir di kota Jakarta. Pada saat banjir melanda kota Jakarta tahun 2007, ketinggian permukaan air di pintu air Manggarai mencapai 1990 m, bandingkan dengan banjir tahun 2002 yaitu 1050 m, dan pada tahun 1996 yaitu 970 m. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbaikan dalam masalah penanganan banjir di Jakarta. Sistem yang dimiliki kota Jakarta untuk menangani masalah ini bukannya tidak berjalan, debit sungai Ciliwung sudah terukur bahkan sejak di bendung Katulampa. Ketika air mencapai ketinggian 200 m di pintu air Depok, pintu air Manggarai akan membuka seluruh pintu airnya dan berada pada keadaan siaga. Saat air di pintu air Manggarai mencapai ketinggian 0-750 m, status keadaan adalah siaga 4. saat air di pintu air Manggarai mencapai ketinggian 750-850 m, keadaan sudah menjadi siaga 3 dan beberapa daerah seperti Pengadegan, Cawang, dan Kampung Melayu sudah tergenang. Saat air mencapai ketinggian 850-950, maka keadaan sudah menjadi siaga 2, di atas 950 m, keadaan telah mencapai siaga 1. Pada saat kunjungan, 2 pintu air berukuran tinggi 8 m dan lebar 5 m tersebut sedang dibuka setinggi 30 m pada pintu kanan dan 100 m pada pintu kiri. Pembukaan pintu air memakan waktu 20 menit menggunakan mesin, tapi pembukaan pintu akan menjadi sangat merepotkan saat listrik tidak mengalir, 4 orang petugas harus naik ke atas bangunan pintu air lalu mengkonfigurasi gigi-gigi penggerak agar dapat digerakkan secara manual dengan memutar sebuah tuas besar. Hal ini harus dilakukan karena instansi ini tidak memiliki generator. Sampah tampak menumpuk di pintu kanan, begitu banyak sehingga petugas pembersih sampah swasta dapat berjalan di atasnya. Hal ini menunjukkan salah satu masalah yang menyebabkan banjir tidak pernah berhenti menyiksa kota Jakarta. Menurut pak Adie, setiap harinya sekitar 30 m3 sampah tertumpuk di pintu air Manggarai. Selain itu, bergantinya daerah serapan menjadi perumahan, penyempitan daerah sungai akibat tumbuhnya rumah-rumah kumuh, dan pendangkalan sungai menjadi penyebab lain terus memburuknya masalah banjir di Jakarta. Mungkin pembangunan saluran banjir kanal timur akan menjadi salah satu cara untuk mengurangi efek akibat banjir di kota Jakarta. Walaupun terhambat masalah pembebasan tanah, warga kota Jakarta dapat terus berharap, sementara keperkasaan pintu air Manggarai yang tidak pernah mengalami perubahan sejak ia selesai dibangun tahun 1918 baik pada bangunan maupun mesin pembuka pintunya itu tidak akan pernah berhenti bekerja.

pintu air kiri

Kunjungan berikutnya ke bendung Cibalok memberikan gambaran yang begitu jelas tentang bendung yang selama ini hanya kami pelajari melalui gambar. Bendung yang bertugas untuk menaikkan muka air sehingga air dapat masuk ke saluran irigasi ini tampak sangat sederhana. Walaupun begitu, tugas besar yang diembannya begitu bernilai. Melalui peta yang kami lampirkan dapat terlihat besarnya daerah irigasi yang dipenuhi kebutuhannya melalui kinerja bendung ini. Selain daerah-daerah persawahan di sepanjang sungai Ciliwung, saluran primer bendung Cibalok terus berjalan hingga ke Bogor, bahkan menjadi penyuplai air bagi Istana Negara di Bogor.

bendung Cibalok

Petugas penjaga yang tinggal beberapa meter dari bendung Cibalok menuturkan bahwa pengalaman paling menakjubkan selama ia bekerja adalah pada saat banjir tahun 2007, dimana ketinggian air di atas mercu mencapai 220 cm dan itu berarti debit air yang melintasi bendung Cibalok saat itu mencapai 214,946 L/s. Keadaan itu terus berlangsung selama 7 jam. Pada kondisi banjir, pintu intake harus ditutup dan pintu penguras dibuka sehingga air yang membawa sedimen tidak masuk ke saluran induk dan sedimen di sekitar intake dapat dibersihkan. Pada saat itu, tercatat ketinggian air di atas mercu mencapai 30 cm dengan debit 6,439 L/s sementara ketinggian air di ambang lebar mencapai 20 cm dengan debit saluran 918 L/s. Setelah sempat bermain-main dengan pintu penguras dan pintu intake, perjalanan dilanjutkan ke instansi terakhir.

bendung Katulampa

Kunjungan terakhir adalah ke bendung Katulampa. Menilik sejarahnya akan membawa kita ke tahun 1872, dimana banjir besar melanda kota Batavia, terutama di daerah Molenvliet (sekarang Harmoni), Rijswijk (sekarang jl. Veteran) dan Noordwijk (sekarang jl. Juanda). Hal ini membuat Van Ferkish memprakarsai pendirian bendung Katulampa. Dibangun sejak tahun 1889-1911, bendung ini sebenarnya digunakan untuk meninggikan permukaan air untuk masuk kedalam intake saluran irigasi, tapi selanjutnya berkembang menjadi banyak fungsi, salah satu yang terpenting yaitu sebagai FWS (flood warning system) bagi kota Jakarta. Bendung raksasa berukuran panjang 105,9 m dengan lebar mercu 91,9 m dan lebar intake 14 m ini memiliki 3 pintu penguras bendung berukuran 4×2 m, 1 pintu penguras bendung berukuran 1,5×2 m, ditambah 5 pintu intake bendung berukuran 2×1 m. Besarnya daerah irigasi yang dilayani bendung ini sebanding dengan dimensinya, luas fungsionalnya mencapai 449 Ha dengan perincian 139 Ha di kota Bogor, 236 Ha di Kabupaten Bogor, dan 72 Ha di kota Depok. Berbicara tentang fungsinya sebagai FWS tidak akan lepas dari pengalaman banjir luar biasa tahun 2007. Saat itu, muka air di atas mercu tercatat 240 cm dan sebanyak 653 m3 air mengalir menuju kota Jakarta, keadaan seperti itu berlangsung selama 8-9 jam.